Kamis, 03 Oktober 2013

Seni Ukir Bali: Mulai Dari Kayu Hingga Batu Padas


 
Produk seni ukir khas Bali, mempunyai motif tersendiri yang khas. Berdasarkan penelitian, motif ukiran Bali merupakan peninggalan jaman kerajaan dahulu kala, yang sudah memperoleh mengalami kemajuan di bidang seni.
Motif ukiran Bali, dikenali dengan beberapa ciri khas, yang terbagi antara ciri umum dan khusus. Ciri-ciri umum:  ukiran Bali mempunyai motif daun, bunga dan buah yang berbentuk cembung dan cekung. Hal ini dapat dikatakan bahwa motif Bali adalah motif campuran yang mempunyai perpaduan bentuk antara cekung dan cembung.
Adapun ciri khusus ukiran Bali antara lain : (1) angkup pada motif Bali, seperti halnya pada motif lainnya, mempunyai bentuk yang berikal pada ujungnya, (2 bentuk sunggar ini tumbuh dari ujung ikal benangan pada daun pokok, (3) simbar pada motif Bali seperti yang terdapat pada motif Pejajaran dan motif Majapahit, dengan bentuk yang khas pula. Simbar berada di depan pangkal daun pokok mengikuti bentuk alurnya, sehingga dapat membentuk keserasian secara keseluruhan pada motif ini, (4) benangan pada motif ini bentuknya khusus atau khas. Benangannya berbentuk cembung dan miring sebagian. Benangan ini tumbuh melingkar sampai pada ujung ikal dan (5) mempunyai pecahan garis yang menjalar pada daun pokok dan pecahan cawen yang terdapat pada ukiran daun patran, sehingga dapat menambah keserasian dan indahnya bentuk ukiran.
Keunikan dan kekhasan ukiran Bali, beberapa tahun terakhir mampu memikat pembeli, baik dari lokal maupun asing sehingga masyarakat pun tidak sedikit yang terjun sebagai pengukir sebagai lahan mengais penghasilan. Tidak mengherankan jika kemudian beberapa sentra ukiran Bali dengan mudah dapat dijumpai. Sebut saja, Desa Mas – Ubud, Desa Tangep – Mengwi, Desa Peken Belayu, Marga – Tabanan dan sederet desa lainnya, yang kondang sebagai sentra ukiran khas Bali.
                Bahan baku pembuatan adalah menggunakan kayu jati,  moja gaung dan cempaka. Namun karena tidak bisa mendapatkan kayu dari Bali, biasanya pelaku bisnis ukiran memesan bahan dari Kalimantan, Sumba atau Flores.
                Selain kayu, seni ukir Bali juga mulai menggunakan bahan batu padas. Perkembangan seni ukir yang menggunakan bahan batu padas itu berawal dari pembangunan tempat suci,  karena hampir semua tembok dan bangunan suci (pelinggih) dihiasi dengan ukiran batu padas.
Kerajinan seni ukir dari bahan batu padas pada awalnya mengambil tema-tema tradisional, namun dalam beberapa tahun belakangan mulai bersentuhan dengan kebudayaan luar, namun tetap mencerminkan tradisi adat, budaya dan agama Hindu di Pulau Dewata.
Menggeluti ukiran dengan bahan batu padas, dilakukan  masyarakat di Desa Belayu, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Mereka  membuat patung, baik sebagai cendera mata maupun benda-benda yang disakralkan untuk kelengkapan pura. Bahan baku batu padas itu diambil dari sungai terdekat, karena hampir sebagian besar sungai-sungai yang bertebing terjal di Bali mengandung batu padas yang memberikan berkah untuk  kehidupan dan kesejahteraan yang layak bagi masyarakat.
Tebing yang terjal di tepi sungai itu mengandung batu padas dengan aneka warna,  akan menjadi bahan bangunan maupun dekorasinya. Batu padas yang berwarna merah digali di tepi jurang di Desa Tajun, Kecamatan Kubu Tambahan, Kabupaten Buleleng. Batu padas merah hasil galian masyarakat Desa Tajun, sempat populer, karena pemasarannya merambah hingga luar Bali, yakni mencapai Solo, Surabaya dan Bandung.
Sedang batu padas warna ungu, dikandung pada hampir  semua tebing sungai di Bali. Masyarakat menggali batu padas itu dengan menggunakan alat-alat tradisional dan langsung membentuk sesuai ukuran yang diinginkan

0 komentar:

Posting Komentar